Pemkab Pasaman Barat dan Tanoto Foundation Perkuat Kolaborasi Tekan Stunting

PASAMAN BARAT, KABAHARIAN. COM–Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat memperkuat kolaborasi dengan Tanoto Foundation untuk mempercepat pencegahan dan penurunan stunting. Kerja sama yang telah terjalin sejak 2021 tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, pemenuhan gizi, dan pola pengasuhan anak sebagai investasi mewujudkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Media Tour Program Penanganan Stunting Tanoto Foundation di Aula Rumah Dinas Bupati Pasaman Barat, Selasa (3/11), yang dihadiri Bupati Pasaman Barat Yulianto, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, serta insan pers.

Bupati Pasaman Barat, Yulianto, menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari mitra pembangunan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi balita stunting di Pasaman Barat tercatat sebesar 26,6 persen pada 2024. Sementara itu, data electronic Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) 2026 mencatat prevalensi sebesar 10,5 persen.

“Ini menjadi tugas besar kita bersama untuk memastikan seluruh anak di Pasaman Barat mendapatkan asupan gizi yang baik, pelayanan kesehatan berkualitas, serta pola pengasuhan yang tepat. Upaya ini harus terus diperkuat agar penanganan stunting berjalan optimal,” ujar Yulianto.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Tanoto Foundation atas komitmen dan dukungannya dalam membantu pemerintah daerah mempercepat pencegahan dan penurunan stunting sejak 2021.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Tanoto Foundation yang terus berkomitmen bersama Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat. Kolaborasi ini sangat berarti dalam mewujudkan generasi Pasaman Barat yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.

Kepala Bappelitbangda Pasaman Barat, Joni Hendri, menjelaskan bahwa strategi percepatan penurunan stunting dilakukan melalui penguatan aksi konvergensi lintas sektor dan Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku (Social and Behaviour Change Communication/SBCC).

Melalui aksi konvergensi, berbagai program OPD diintegrasikan agar intervensi pencegahan dan penanganan stunting menjangkau keluarga sasaran secara tepat. Program tersebut meliputi pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi, penyediaan air minum aman, sanitasi layak, serta edukasi pengasuhan anak.

Sementara itu, pendekatan SBCC difokuskan pada perubahan perilaku masyarakat melalui komunikasi partisipatif yang sesuai dengan kondisi sosial dan budaya setempat. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran keluarga dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat, memenuhi kebutuhan gizi anak, serta memanfaatkan layanan kesehatan secara rutin.

Joni menambahkan, perhatian khusus juga diberikan terhadap pemenuhan gizi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode tersebut merupakan fase penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga membutuhkan pemenuhan gizi ibu hamil, inisiasi menyusu dini (IMD), ASI eksklusif selama enam bulan, serta pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi dan kaya protein hewani.

Selain itu, pemantauan pertumbuhan anak secara berkala juga terus didorong melalui posyandu.

Dalam pelaksanaannya, komunikasi perubahan perilaku diarahkan pada enam pesan utama pencegahan stunting, yakni pemenuhan gizi ibu hamil; pelaksanaan IMD dan pemberian ASI eksklusif; pemberian MPASI bergizi dan kaya protein hewani bagi anak usia 6–24 bulan; pemantauan pertumbuhan anak secara rutin di posyandu; penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk mencuci tangan dengan sabun; serta pemanfaatan air bersih dan sanitasi layak.

Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusva, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat merupakan langkah strategis untuk memastikan intervensi pencegahan dan penurunan stunting berjalan secara berkelanjutan, terintegrasi, dan tepat sasaran.

Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, organisasi filantropi, akademisi, media, hingga masyarakat. Selain itu, penguatan kapasitas petugas di lapangan, seperti kader posyandu, bidan desa, dan tenaga penyuluh kesehatan, menjadi faktor penting karena mereka berinteraksi langsung dengan keluarga sasaran.

“Keberhasilan penanganan stunting di Kabupaten Pasaman Barat diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat merupakan kunci untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujarnya. (KB)

Editor: Chaniago

Lugas Dalam Pemberitaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *